Selamat Datang di blog ZEB CIVIL. Terimakasih telah berkunjung, jangan lupa tinggalkan komentar dan follownya ya bro...

Minggu, 24 Juli 2011

Penyebab Telaga/Embung Gagal

Saat ini di berbagai belahan wilayah di Indonesia terutama yang sumber air sulit di temukan karena kondisi cuaca yang tidak kondusif, dan di didukung oleh keadaan tanah yang cepat meresap air hujan karena pori-pori tanah yang besar, maka pebangunan Embung/Telaga banyak di lakukan namun banyak yang menjadi kendala keberhasilannya. Apabila dicermati lebih mendalam, beberapa penyebab menurunnya fungsi embung/telaga yang kemudian sering “diidentikkan” dengan kegagalan rehabilitasi embung/telaga, adalah beberapa hal berikut ini. 
  1. Perubahan curah hujan yang mengalami kecenderungan penurunan pada sepuluh tahun terakhir dan disertai dengan perubahan fluktuasi curah hujan bulanan; 
  2. Perubahan klimatologi yang meliputi kelembaban udara, temperatur udara, kecepatan angin dan lama penyinaran matahari yang kesemua ini berpengaruh langsung terhadap peningkatan besarnya penguapan pada kolam tampungan embung/telaga dan daerah tangkapan hujannya; 
  3. Perubahan daerah tangkapan hujan yang diakibatkan oleh perubahan fungsi lahan, perubahan pengelolaan lahan dan perubahan yang diakibatkan pembangunan fasilitas umum di sekitar embung/telaga, yang sering memotong alur limpasan air ke embung/telaga; 
  4. Perubahan perilaku masyarakat terhadap embung/telaga, yang sebenarnya merupakan akibat wajar dari perubahan tingkat ketergantungan pemenuhan kebutuhan air, yang dewasa ini dapat diperoleh tidak hanya dari embung/telaga. 
  5. Perubahan tingkat kesejahteraan, tingkat pendidikan dan kesadaran peningkatan derajad kesehatan masyarakat, mendorong semakin sedikitnya pemanfaatan embung/telaga untuk kebutuhan mandi dan cuci, sehingga berakibat langsung terhadap penurunan sikap kepedulian terhadap embung/telaga di lingkungannya; 
  6. Belum adanya “Sucses Story” rehabilitasi embung/telaga yang sudah dilakukan oleh institusi yang berwenang, yang dapat dijadikan acuan pemilihan strategi dan metode rehabilitasi embung/telaga.
Dari serangkaian paparan di atas maka dalam rehabilitasi dan pengembangan embung/telaga, secara garis besar terdapat empat komponen yang merupakan bagian integral dari keberadaan sistem embung/telaga yaitu: 
  1. Komponen alamiah yang berupa curah hujan dan klimatologi yang bersifat “regime” alam yang keberadaanya tidak dapat di kreasi atau dipengaruhi oleh manusia; 
  2. Komponen daerah tangkapan hujan, yang keberadaanya dapat dikreasi dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat menjadi faktor pendukung keberlanjutan dari sistem embung/telaga; 
  3. Komponen kolam tampungan embung/telaga yang keberadaanya dapat difungsikan sedemikian rupa, sehingga mampu memberikan nilai manfaat yang optimal bagi masyarakat dan lingkungan di sekitar embung/telaga; 
  4. Komponen masyarakat yang merupakan faktor kunci yang dapat berpengaruh besar terhadap keberlanjutan fungsi embung/telaga, atau justru sebaliknya menjadi faktor yang mempercepat kerusakan sistem embung/telaga. 
Sinergi dari keempat komponen yang disebut di atas, merupakan jaminan terhadap keberhasilan rehabilitasi embung/telaga, atau minimal dapat memperkecil kemungkinan kegagalan rehabilitasi embung/telaga. 
Mencari contoh embung/telaga dimana terjadi sinergi keempat komponen tersebut di atas memang merupakan hal yang cukup sulit dilakukan, sehingga diperlukan pendekatan cara pandang, yang salah satunya dilakukan dengan pengamatan dan pengkajian pada embung/telaga yang memiliki masa tampungan lestari untuk mencari tahu karakteristik-karakteristik kondisi daerah tangkapan hujannya, karakteristik-karakteristik kondisi kolam tampungan embung/telaga dan model pengelolaan embung/telaga oleh masyarakat di sekitarnya. Sedangkan komponen curah hujan dan klimatologi dapat didekati dengan melakukan analisa data klimatologi dan data curah hujan secara teliti dan hati-hati. 
Jadi dalam melakukan rehabilitasi embung/telaga dengan menggunakan pendekatan sinergi yang integralistik, semua komponen yang terkait dengan sistem embung/telaga perlu mendapatkan perhatian dengan porsi yang sesuai, sehingga dengan demikian tidak ada komponen dalam sistem embung/telaga yang diabaikan. Pengabaian salah komponen sistem embung/telaga (misal daerah tangkapan hujan) akan menyebabkan kerusakan komponen yang lain (misal lama masa tampungan kolam embung/telaga). 
Perbaikan pada hal-hal yang bersifat non struktural dapat dilakukan dengan melakukan kajian ulang terhadap tujuan rehabilitasi embung/telaga, berbagi informasi tentang persoalan-persoalan yang menjadi kendala rehabilitasi embung/telaga dan persoalan-persolan lainnya, dengan melakukan dialog bersama antara perencana, pelaksana, institusi yang berwenang dan masyarakat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar